twitter





Guruku pahlawanku. Sungguh luar biasa besar makna yang terkandung dalam kalimat tersebut bagi seorang guru dimana pengakuan atas jasa dan jerih payah sang guru diapresiasikan dengan begitu indah dalam bingkai kata berfigura emas dan begitu mulia. Hal ini menunjukkan besarnya fungsi seorang pendidik dalam tatanan percaturan kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga mereka layak diberikan gelar pahlawan meskipun tanpa pernah mendapatkan tanda jasa.
Sayangnya gelar berharga yang pernah diberikan dan melekat pada diri seorang guru itu sedikit demi sedikit mulai pudar tergerus dahsyatnya terjangan air bah kehidupan dan kemajuan zaman. Guru terkungkung pada suatu paradigma berfikir konvensional bahwa guru adalah pahlawan, padahal banyak nilai-nilai kepahlawanan yang sebelumnya ada dan menjadi jiwa sang guru kini telah hilang dan lenyap entah kemana.

Guru sebagai educator, manager, administrator, supervisor and leader, inovator, and motivator (EMASLIM) mulai hilang pegangan dan jati diri. Demikian ini terjadi karena sebagai educator guru hanya mampu mengajarkan ilmu dan pengetahuan kepada peserta didik tanpa mampu memberikan pendidikan yang berimplikasi pada pembentukan akhlak dan karakter terpuji. Guru adalah educator yang menjadi tokoh, panutan, suri tauladan dan sumber inspirasu utama bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, kretifitas, inovasi dan disiplin. Peran guru sebagai pendidik berkaitan erat dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut sebagai bekal untuk dibawa peserta didik dalam menjalankan kehidupan sesungguhnya dalam pergaulan mereka sehari-hari. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan tempat bagi peserta didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuan sosial yang mereka miliki. Guru hendaknya menunjukkan contoh yang baik dimana guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.
Guru diharapkan mampu menjadi manager yang baik yaitu mampu memanajerial anak didik dan berbagai aspek pendidikan lainnya. Hal ini akan menjadi kerangka kuat untuk sebagai pondasi awal dengan harapan mampu menanamkan pengetahuan kepada siswa. Ketika pendidik gagal menjadi a good manager bagai peserta didiknya, akan terciptalah berbagai asumsi yang menjadi reasonable makin lunturnya wibawa guru dihadapan peserta didik. Guru juga diharapkan bisa menjadi administrator unggul dengan mengadministrasi semua pekerjaan guru sebagai bahan analisis dan pertimbangan tindakan dalam proses pembelajaran. Sejalan dengan hal tersebut pengadministrasian yang tepat dan benar ini telah diamanatkan dalam kurikulum 2013. Pendidik dituntut menjadi the best administrator dengan melakukan berbagai tindakan pengarsipan dan pemberian penilaian terhadap peserta didik. Hal yang mengejutkan dari penerapan kurikulum tersebut adalah kebanyakan guru merasa keberatan dengan berbagai proses pengadministrasian dan penilaian yang begitu banyak. Tuntutan ini sebenarnya tidaklah terlalu berlebihan, tetapi proses penilaian yang rumit dan memakan waktu lama mengindikasikan seolah-olah tugas pendidik hanya menyiapkan administrasi dan penilaian saja padahal yang terpenting adalah bagaimana direct treatment yang dilakukan dan memunculkan kesadaran dari masing-masing siswa.
Tidak kalah penting nya guru adalah supervisor dan leader bagi siswa dimana guru diharapkan mampu menampilkan sosok pemimpin ideal yang tidak berlagak bahwa guru adalah bos. Guru diharapkan mempunyai kepribadian dan ilmu pengetahuan luas tidak hanya terpaku pada mata pelajaran yang diajarkan tetapi juga melingkupi aspek-aspek pengetahuan lainnya. Dengan modal inilah guru menjadi pemimpin bagi peserta didiknya. Guru inovatif adalah guru yang menyenangkan dengan berbagai ide-ide kreatif dan inisiatif-inisiatif tepat serta efisien yang kemudian diterapkan sehingga guru dengan sendiri dicintai siswa dan menjadi guru idola dimata siswa. Untuk merangsang ketertarikan pada proses belajar mengajar guru sangat diharapkan mampu menjadi the best motivator bagi siswanya, dimana afirmasi-afirmasi yang disampaikan kepada siswa diharapkan akan mampu meruntuhkan tembok kekerasan hati dan ketidakberdayaan serta ketidakyakinan yang mendera siswa menjadi rasa optimis.
Sejalan dengan prinsip EMASLIM, menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (2003:2) tugas utama guru adalah mencakup 7 hal utama yaitu: (1) Guru sebagai pendidik dimana apa yang terlihat, terdengar dan terasa oleh siswa dari guru  harus berfungsi sebagai teladan yang akan ditiru dan diamalkan oleh siswa, karena itu beri teladan baik buat siswa dalam segala kesempatan (2) Guru sebagai pengajar, pada posisi ini guru harus menjadikan dirinya sebagai seorang  professional dan memiliki kompetensi  sesuai dengan mata Pelajaran yang diajarkan, karena bagaimana mungkin dapat melahirkan siswa yang memiliki kompetensi kalau guru tanpa potensi (3) Guru sebagai pembimbing, disini seyogianya guru berada dibarisan depan untuk membimbing siswa kearah tujuan yang diharapkan. Karena itu guru harus pro aktif dalam memahami kondisi dan potensi yang dimiliki siswa (4) Guru sebagai pengarah dengan meng rahkan siswa untuk dapat mengembangkan seluruh potensi dan kretifitas siswa kepada tujuan pembelajaran, rangsang siswa untuk mampu merespon dan melakukan sendiri apa yang seharusnya mereka lakukan, (5). Guru sebagai pelatih. Pada posisi ini guru harus mampu memberikan latihan secara secara terukur dan terus menerus agar apa yang menjadi target pembelajaran tercapai (6) Guru sebagai penilai, menilai siswa berarti sebuah upaya untuk mengetahui apakah proses pembelajaran yang sudah dilakukan telah dilakukan secara efektif, karena itu lakukan kegiatan penilaian ini secara teratur dan terukur dan (7) Ketujuh, guru melakukan evaluasi kegiatan pembelajaran.
Jika kita mampu menjadi guru yang EMASLIM dan menerapkan prinsip 7M tersebut diatas dengan baik maka guru akan kian dihargai seiring dengan meningkatnya kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor siswa. Semoga kita mampu menjadi guru yang kreatif, inovatif, smart, dan merupakan suri tauladan bagi siswa kita semua.


Sungai Apit, 11 April 2016

          Abdullah, S.Pd

  Guru MTsN Sungai Apit

                                 

0 komentar:

Posting Komentar