Sayangnya gelar berharga yang pernah
diberikan dan melekat pada diri seorang guru itu sedikit demi sedikit mulai
pudar tergerus dahsyatnya terjangan air bah kehidupan dan kemajuan zaman. Guru
terkungkung pada suatu paradigma berfikir konvensional bahwa guru adalah
pahlawan, padahal banyak nilai-nilai kepahlawanan yang sebelumnya ada dan
menjadi jiwa sang guru kini telah hilang dan lenyap entah kemana.
Guru sebagai educator, manager,
administrator, supervisor and leader, inovator, and motivator (EMASLIM) mulai
hilang pegangan dan jati diri. Demikian ini terjadi karena sebagai educator
guru hanya mampu mengajarkan ilmu dan pengetahuan kepada peserta didik tanpa
mampu memberikan pendidikan yang berimplikasi pada pembentukan akhlak dan
karakter terpuji. Guru adalah educator yang menjadi tokoh, panutan, suri
tauladan dan sumber inspirasu utama bagi para peserta didik, dan lingkungannya.
Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas tertentu, yang mencakup
tanggung jawab, wibawa, mandiri, kretifitas, inovasi dan disiplin. Peran guru
sebagai pendidik berkaitan erat dengan meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut sebagai
bekal untuk dibawa peserta didik dalam menjalankan kehidupan sesungguhnya dalam
pergaulan mereka sehari-hari. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik
dan tempat bagi peserta didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuan sosial
yang mereka miliki. Guru hendaknya menunjukkan contoh yang baik dimana guru
sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas
anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.
Guru diharapkan mampu menjadi manager
yang baik yaitu mampu memanajerial anak didik dan berbagai aspek pendidikan
lainnya. Hal ini akan menjadi kerangka kuat untuk sebagai pondasi awal dengan
harapan mampu menanamkan pengetahuan kepada siswa. Ketika pendidik gagal
menjadi a good manager bagai peserta didiknya, akan terciptalah berbagai asumsi
yang menjadi reasonable makin lunturnya wibawa guru dihadapan peserta didik.
Guru juga diharapkan bisa menjadi administrator unggul dengan mengadministrasi
semua pekerjaan guru sebagai bahan analisis dan pertimbangan tindakan dalam
proses pembelajaran. Sejalan dengan hal tersebut pengadministrasian yang tepat
dan benar ini telah diamanatkan dalam kurikulum 2013. Pendidik dituntut menjadi
the best administrator dengan melakukan berbagai tindakan pengarsipan dan
pemberian penilaian terhadap peserta didik. Hal yang mengejutkan dari penerapan
kurikulum tersebut adalah kebanyakan guru merasa keberatan dengan berbagai
proses pengadministrasian dan penilaian yang begitu banyak. Tuntutan ini
sebenarnya tidaklah terlalu berlebihan, tetapi proses penilaian yang rumit dan
memakan waktu lama mengindikasikan seolah-olah tugas pendidik hanya menyiapkan
administrasi dan penilaian saja padahal yang terpenting adalah bagaimana direct
treatment yang dilakukan dan memunculkan kesadaran dari masing-masing siswa.
Tidak kalah penting nya guru adalah
supervisor dan leader bagi siswa dimana guru diharapkan mampu menampilkan sosok
pemimpin ideal yang tidak berlagak bahwa guru adalah bos. Guru diharapkan
mempunyai kepribadian dan ilmu pengetahuan luas tidak hanya terpaku pada mata
pelajaran yang diajarkan tetapi juga melingkupi aspek-aspek pengetahuan
lainnya. Dengan modal inilah guru menjadi pemimpin bagi peserta didiknya. Guru
inovatif adalah guru yang menyenangkan dengan berbagai ide-ide kreatif dan
inisiatif-inisiatif tepat serta efisien yang kemudian diterapkan sehingga guru
dengan sendiri dicintai siswa dan menjadi guru idola dimata siswa. Untuk
merangsang ketertarikan pada proses belajar mengajar guru sangat diharapkan
mampu menjadi the best motivator bagi siswanya, dimana afirmasi-afirmasi yang
disampaikan kepada siswa diharapkan akan mampu meruntuhkan tembok kekerasan
hati dan ketidakberdayaan serta ketidakyakinan yang mendera siswa menjadi rasa
optimis.
Sejalan dengan prinsip EMASLIM,
menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (2003:2) tugas utama guru adalah
mencakup 7 hal utama yaitu: (1) Guru sebagai pendidik dimana apa yang terlihat,
terdengar dan terasa oleh siswa dari guru
harus berfungsi sebagai teladan yang akan ditiru dan diamalkan oleh
siswa, karena itu beri teladan baik buat siswa dalam segala kesempatan (2) Guru
sebagai pengajar, pada posisi ini guru harus menjadikan dirinya sebagai
seorang professional dan memiliki
kompetensi sesuai dengan mata Pelajaran
yang diajarkan, karena bagaimana mungkin dapat melahirkan siswa yang memiliki
kompetensi kalau guru tanpa potensi (3) Guru sebagai pembimbing, disini
seyogianya guru berada dibarisan depan untuk membimbing siswa kearah tujuan
yang diharapkan. Karena itu guru harus pro aktif dalam memahami kondisi dan
potensi yang dimiliki siswa (4) Guru sebagai pengarah dengan meng rahkan siswa
untuk dapat mengembangkan seluruh potensi dan kretifitas siswa kepada tujuan
pembelajaran, rangsang siswa untuk mampu merespon dan melakukan sendiri apa
yang seharusnya mereka lakukan, (5). Guru sebagai pelatih. Pada posisi ini guru
harus mampu memberikan latihan secara secara terukur dan terus menerus agar apa
yang menjadi target pembelajaran tercapai (6) Guru sebagai penilai, menilai
siswa berarti sebuah upaya untuk mengetahui apakah proses pembelajaran yang
sudah dilakukan telah dilakukan secara efektif, karena itu lakukan kegiatan
penilaian ini secara teratur dan terukur dan (7) Ketujuh, guru melakukan
evaluasi kegiatan pembelajaran.
Jika kita mampu menjadi guru yang
EMASLIM dan menerapkan prinsip 7M tersebut diatas dengan baik maka guru akan
kian dihargai seiring dengan meningkatnya kemampuan kognitif, afektif, dan
psikomotor siswa. Semoga kita mampu menjadi guru yang kreatif, inovatif, smart,
dan merupakan suri tauladan bagi siswa kita semua.
Sungai
Apit, 11 April 2016
Abdullah,
S.Pd
Guru MTsN Sungai
Apit

